hari minggu kemaren, romo yang membawakan misa adalah romo tamu. sebenernya dia sedang bertugas di papua, mengurus sekolah swasta yang baru didirikan 10 tahun yang lalu.
dia bercerita bahwa di papua itu sekolah negeri yang terkenal adalah Sekolah Negeri 1, dan jumlah muridnya hingga ribuan. kalau ujian nasional semuanya lulus, tapi bukan karena anak2nya bisa mengerjakan ujian, lebih karena guru2nya sudah memberikan kunci jawaban terlebih dahulu yang tinggal dihafalkan oleh anak2 ini
jadi kalau anak2 di daerah lain malam sebelumnya masih bersusah payah menghafalkan segala rumus ataupun fakta2, anak2 papua ini hanya tinggal menghafalkan kunci jawabannya
merasa tidak adil? tapi memang begitu kenyataannya, mereka miskin, rumah jauh dari sekolah, banyak pekerjaan yang harus dilakukan meski mereka masih anak2, dan sebagian besar orangtuanya tidak mengenyam pendidikan yang layak yang bisa membuat para orangtua berpikir untuk mendidik anaknya dengan lebih baik.
kembali ke cerita sekolah swasta ini. di sana para gurunya tidak membiarkan para muridnya enak saja bisa lulus karena diberikan kunci jawaban sebelum ujian. di sekolah ini mereka dididik untuk belajar dengan sungguh2 dan harus mengerti dengan benar isi pelajarannya. di sekolah ini kedisiplinan sangat ditekankan. jadi ketika ujian nasional, masih ada 20-30% siswa yang biasanya tidak lulus. tapi bagi yang lulus, mereka lulus dengan usaha mereka sendiri.
kemudian sang romo bercerita soal seleksi anak daerah berprestasi yang diadakan oleh yohanes surya. dari banyak sekali anak yang ikut, termasuk yang dari sekolah negeri, yang akhirnya lolos seleksi hanya 5 orang.
1 dari sekolah negeri
4 dari sekolah swasta
siswa sekolah negeri ada 1000, siswa sekolah swasta 200
kalau dipersentase, hanya 0,1% dari siswa sekolah negeri yang diterima, sedangkan dari sekolah swasta 2%
dari sini terlihat yang siswanya lebih berkualitas yang mana.
setelah cerita panjang lebar, sang romo mengakui kalo dia lagi ngamen. ngamen untuk meminta sumbangan dari para umat yang hadir. akhirnya kolekte kedua ditujukan untuk pembangunan dan perbaikan kualitas sekolah ini. sang romo juga menerima sumbangan berupa barang.
setelah kolekte kedua diedarkan, uangnya langsung dihitung dan akhirnya diumumkan di akhir misa. dari hanya sekitar 300 umat yang hadir (yang mana sebagian besar datang bersama keluarga, mungkin kalau dihitung2 hanya sekitar 120-150 keluarga) jumlah uang yang ada terhitung fantastis.
bayangkan, 11,8 juta rupiah!
betapa banyak orang tergerak dari cerita sang romo untuk menyumbang! gw sendiri menyumbang cukup banyak dibanding kolekte biasa (cukup banyak versi gw) karena gw melihat tujuan yang ingin dicapai adalah jelas dengan latar belakang yang jelas pula.
beralih ke cerita lain soal meminta sumbangan
tiap hari kerja di salah satu jalan yang gw lewatin ada beberapa orang yang meminta sumbangan dengan menggunakan jaring untuk perbaikan rumah ibadah
gw liat selalu ada saja yang memberikan sumbangan, tapi jumlahnya kecil, paling 1000, 2000, atau 5000, jarang gw liat ada yang memberikan 20000 atau 50000 apalagi 100000
gw jadi ngeh setelah kejadian di misa kemaren. orang akan menjadi malas untuk menyumbang ketika tujuan dan latar belakangnya tidak jelas.
gw sendiri ga pernah ngasih sumbangan ke yang di jalan itu. sorry aja sih, mereka entah udah berapa lama minta sumbangan tapi koq ya ga pernah kelar, padahal tiap hari (dan bukan cuma hari kerja, karena gw pernah lewat hari sabtu mereka tetep pada stand by buat minta sumbangan) jadi gw agak negative thinking tentang penggunaan uangnya itu
kalau dipikir2 sehari misalnya dapat 300 ribu (pukul rata) dalam sebulan berarti 9 juta. bandingkan dengan yang minta sumbangan di misa dengan celoteh panjang lebar selama 20 menit bisa dapat hampir 12 juta dalam sehari!
kenapa mereka ga ubah aja metode meminta sumbangannya yah? jadi kan ga usah tiap hari susah2 minta ke orang yang lewat...
No comments:
Post a Comment