Friday, October 30, 2015

Rasanya Campur Aduk

Mengambil sebuah keputusan untuk keluar dari zona nyaman itu sebenarnya sebuah tantangan dan pengharapan. Tantangan karena akan timbul masalah baru dalam hidup. Namun juga pengharapan akan hidup yang lebih baik.

Sebuah keputusan telah diambil. Pun langkah-langkah yang menyertai keputusan tersebut. Hati sedang bergejolak akan banyak rasa. Senang, sedih, cemas, penasaran. Semua sedang terasa. Semua rasa tersebut ditunjukkan oleh kondisi fisik yang juga mulai memberontak.

Ketika menoleh ke belakang, tak pernah terpikir kesempatan ini akan datang secepat ini. Kesempatan yang sangat sayang untuk dilepas. Kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk yang kedua kali.

Pilihan sudah ditetapkan. Langkah-langkah kecil sedang dibuat, menyongsong langkah besar yang harus dihadapi dalam waktu dekat.

Monday, October 26, 2015

Operation Koala: Halls Gap & Mornington Peninsula

Hari ke 10. Cepet deh trip kali ini berasanya. Tiba-tiba udah hari ke 10. Pagi itu cuaca kurang bersahabat. Hujan dan berkabut, jadinya ga bisa menikmati pemandangan. Destinasi berikutnya adalah area namanya Halls Gap. Halls Gap ini adalah satu bagian kecil dari area pegunungan Grampians. Grampians ini sering dikunjungi untuk berkemah maupun weekend getaway dengan menginap di bungalow yang banyak tersedia di berbagai area di grampians.

Sempat mampir ke Tourist Center yang berada di Halls Gap untuk mencari tahu cara mencapai berbagai spot untuk foto. Tapi karena kondisi cuaca yang buruk, petugasnya ga menyarankan untuk hiking. Prakiraan cuacanya juga lagi ga bagus untuk malam itu sampai keesokan paginya. Kalau mau hiking, petanya ga tersedia online. Di tourist center dijual sih, tapi karena gw cuma semalam di sana dan ga berniat terlalu banyak menjelajah area itu, jadi ga beli petanya.

Dari tourist center, kita check in ke hotel. Nginap di hotel namanya grampians motel. Kita ambil family room buat berempat. Kamarnya bersih, kamar mandinya masih ok meski lantainya dingin. Pemanasnya juga menyala dengan baik. Kulkas ada, toaster ada, perlengkapan makan ada sampai microwave juga ada. 

Sempet jalan ke salah satu lookout dan foto-foto, lalu mencoba hiking ke pinnacles, tapi karena udah kesorean jadi ga sampai ke puncak, udah gitu ternyata medan hikingnya ga semudah yang gw bayangkan. Padahal karena tahu mau hiking, gw udah pake perlengkapan yang cukup memadai.
Lookout yang kita temuin dan bisa diakses kendaraan
Malamnya kita ambil paket self cook BBQ dari hotel. Ambil 2 paket ayam dan 2 paket daging sapi. Kirain mah paketnya ga akan terlalu banyak isinya mengingat harganya lumayan murah, jadi pas sebelum sampe di Halls Gap kita sempet mampir supermarket dan beli daging lagi dan sayur buat salad plus dressing. Ternyata paketnya isinya banyak. Dagingnya gede, potato salad, pasta salad, roti setangkup plus mentega, dan banyak banget bawang bombay. Dikasih olive oil, garam, lada juga sama chefnya. Grill-nya ga bersih-bersih amat pas pertama kali kita buka, jadi pakai satu roti tawar, kita berusaha membersihkan kotorannya. Abis itu kita masak donk dagingnya. Sapinya tebel dan enak, ayamnya udah dibumbuin sama si chef dan enak banget juga. Salad-saladnya enak-enak juga, tapi gara-gara kita beli daging dan sayur tambahan jadinya makanannya kebanyakan. Seporsi bawang bombay akhirnya kita kembalikan ke dapur beserta peralatan yang sudah kita bersihkan sekedarnya juga semua bumbu yang ada kita kembalikan juga. 

Kenyang makan masih sempet minum sebotol wine lagi donk. Hebat deh malam itu, perut udah kaya karet. Setelah berasa mabok, tidur juga deh...

Bangun-bangun paginya, gw liat banyak sekali kanguru bertebaran sedang makan rumput. Sehari sebelumnya, udah sempet nanya sama resepsionis, boleh ga kanguru dideketin. Boleh, tapi hati-hati. Biasanya mereka akan kabur duluan juga. Dan bener sih, kalau dari rada jauh mereka cuek, begitu deket banget, kanguru-kanguru itu akan kabur... Sempet ngevideoin pas kangurunya lagi lompat-lompatan. Lucuuuu banget. Ada beberapa hewan lain juga yang berkeliaran di daerah situ. Ada segerombolan burung kakak tua yang begitu kita bawa makanan langsung berkerumun.
kangaroo everywhere
Setelah beberes dan check out, sempet mampir dulu ke reservoir yang kita liat waktu foto-foto di lookout. Lalu kita jalan ke Ballarat. Di Ballarat makan siang di KFC karena pengen cepet, terus sempet muterin kotanya sebentar sebelum jalan lagi ke arah Geelong.
Selfie di reservoir
Ballarat center
Begitu sampe di Geelong udah menjelang jam makan malam. Mampir ke pizzeria yang dikasih tahu sama bartender hotel dan kayaknya salah pesen. Dari 2 pizza yang kita pesen, satunya kurang enak, satunya ok. Pesen garlic bread juga dan lumayan enak, sisa pizza sama garlic bread yang ga kita abisin jadinya buat sarapan keesokan paginya. Malam itu kita dapet free drink lagi di hotel, jadi mampir ke bar dan ketemu sama bartender yang sama. Sempet dikasih segelas minuman gratis juga. Bingung kenapa bartender-bartender di kota kecil murah hati sekali. Kalau di kota gede pilihan minumannya aja sering dibatasi.

Hari berikutnya kita naik ferry ke area Mornington Peninsula. Mornington Peninsula ini banyak area kecil-kecil, selain pemandangan alam, ada kebun anggur, ada permandian air panas, dll. Selain berkendara ke sekeliling dan menikmati pemandangan, kita ke area puncak namanya Arthur's Seat kemudian ke Murrays Lookout ga jauh dari Arthur's Seat. Agak bingung mau jalan ke mana lagi, jujur aja untuk area ini gw ga banyak browsing, saking ribet beberapa saat sebelom trip ini, ada beberapa spot yang gw ga terlalu browsing detail mau ke mana aja. Karena udah jam makan siang, akhirnya cari tempat makan. Di zomato nemu cafe namanya The Winey Cow yang menyediakan Australian brunch. Reviewnya menarik, jadi makan di situ. Servicenya lambaaattt bener, tapi makanannya enak-enak. Kopi, chai tea, dan coklatnya juga ok. Gw bukan penggemar chai tea sih, tapi temen gw bilang itu salah satu chai tea terenak yang pernah dia minum.
Ferry Port
Mornington Peninsula
Murray's Lookout
Abis makan, kita berkeliling sebentar di area itu, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Melbourne.

Friday, October 23, 2015

Operation Koala: Adelaide

Hari berikutnya setelah jalan di Great Ocean Road, waktu lebih banyak habis di jalan. Karena berencana untuk sampai di Adelaide sebelum dinner, jadi agak kejar-kejaran sama waktu. Siangnya sempet makan dulu di Cafe Melzar, Mount Gambier, terus mampir ke Umpherston Sinkhole. Umpherston Sinkhole ini kebon dan goa, awalnya sih hasil kejadian alam, tapi kebonnya direnovasi sama keluarga Umpherston.  Tempatnya unik meski lokasinya di tengah kota.
Umpherston Sinkhole
Perjalanan dilanjutkan sampai Adelaide dan sampai sebelum terlalu malam. Malam itu ketemu lagi sama temen yang dari Sydney, dia join selama jalan di Adelaide. Dinner kita jalan ke Hahndorf, kota jerman kira-kira 30-40 menit perjalanan dari tengah kota Adelaide. Makan malam di German Restaurant yakni di Hahndorf Inn Hotel. Waktu cari parkir agak bingung karena dimana-mana ga boleh parkir. Tapi setelah dapat spot parkir ga jauh dari resto, kita langsung masuk ke restorannya. Ternyata restonya rame. Hampir aja ga dapet tempat duduk. Tapi memang sedang beruntung, hari itu ga serame biasanya, jadi masih tersisa satu meja meski kecil dan harus dempet-dempetan. Pesanan belum datang, ada meja lain yang lebih besar kosong, akhirnya kita minta pindah dan dikabulin. Sempet ada insiden waktu makanan dateng, entah masalah miskomunikasi atau memang awalnya kita salah pesen, pork knuckle yang dateng tidak sesuai harapan. Kita request minta ganti dan dikabulin, meski mesti tambah bayar karena memang harganya berbeda. Servicenya ok banget deh tempat ini. Makanannya enak-enak banget semua juga. Dari semua sosisnya, pork knucklenya, sampai wiener schnitzelnya yang menurut gw paling enak dari semua makanan yang dicoba. Saking kenyangnya, rencana untuk pesen apple strudle langsung bubar. Harganya juga ok banget buat german food. Kebiasaan makan german food mahal banget di jakarta maupun singapur, makan di australia berasa ga terlalu mahal, mana bahan bakunya beda, rasanya juga lebih enak.

Pork Party at Hahndorf Inn Hotel
Setelah selesai makan, kita balik dan check-in di hotel. Keesokan paginya, gw sama fleo lari pagi keliling kota. Ga jauh-jauh sih cuma 5km-an. Karena kita bangun kesiangan juga. Setelah mandi dan siap pergi, hari itu tujuan kita ke Barossa Valley, area perkebunan anggur di utara Adelaide.
Adelaide City
Perhentian pertama ke Cafe. Cari brunch, sayangnya cafe yang dipilih makanannya kurang ok. Tapi lokasinya di sebrang Barossa Valley Cheese. Kita nyebrang, cicip-cicip sambil nanya-nanya sama penjaga toko yang ramah, terus beli keju deh. Kita tanya juga winery yang ok dimana dan meski bingung sama ucapan dia yang logat aussienya kentel banget, kita nangkep satu tempat yang dia saranin, yakni Yalumba Wines.
Barossa Valley Cheese
Yalumba ini winery udah tua, ga terlalu komersil, bisa free tasting. Kita coba macam-macam terus beli 2 botol. Wine-nya enak-enak di sini. Penjaganya juga ramah.
Yalumba Winery
Dari Yalumba kita pergi ke Maggie Beer's Farm Shop. Dari semua item yang dijual untuk bawa pulang ke rumah, mayoritas yang gw coba ga sesuai selera. Akhirnya cuma beli 1 fruit jam. Sempet beli makanan dan nongkrong bentar di sana, tapi karena ga tahu mau ngapain lagi dan masih kenyang, kita akhirnya lanjut lagi ke winery berikutnya.
Maggie Beer Farm Shop
Tiga winery berikutnya yang kita kunjungin adalah seppelstfield, charles melton, dan jacob's creek. Seppelstfield wine gw kurang cocok, cuma akhirnya nemu satu varian yang lumayan, akhirnya beli 1. Di charles melton spesialis red wine dan kenceng-kenceng semua. Kalo demen red wine yang depth dan gak manis, tempat ini mesti dicoba. Dia ga produksi banyak, kebunnya pun tampak kecil, tapi mayoritas wine-nya enak.
Seppelstfield
Charles Melton
Winery terakhir yang didatengin adalah jacob's creek. Udah sering sih beli jacob's creek tapi biasanya kalau datang ke winery-nya langsung harganya lebih murah. Mau cari tahu juga ada wine apa yang menarik. Terus setelah liat-liat dia bikin minuman baru, mix antara cider dan white wine. Rasanya lumayan enak, tapi karena dicampur sama cider jadinya agak manis. Akhirnya ga beli yang mix cider dan wine ini sih, karena kayaknya bisa dibeli di supermarket. Meski sampe akhirnya ga kebeli karena udah kebanyakan beli wine dan sering dapet free drink dari hotel.

Malamnya gw makan di vietnamese restaurant yang terkenal di adelaide, namanya Nghi Ngan Quan. Lokasinya lumayan jauh dari hotel, jadi harus pakai mobil buat ke sana. Pas udah deket lokasinya, gw bingung karena ga ada penampakan restonya. Ternyata restonya terletak di salah satu gedung tua yang udah direnov, jadi dari luar sekilas ga kaya resto vietnam. Begitu sampe, nunggu bentar tapi langsung dapet tempat duduk di dalem. Karena udah browsing mau makan apa, jadi langsung pesen, terus nunggu bentar sambil ke toilet. Makanan datang, enak-enak semua, dan porsinya gede banget. Sampe begah begitu kelar makan. Tapi dari semua makanan yang gw makan selama trip kali ini, makan di NNQ adalah yang paling berkesan. Mungkin emang dasarnya gw ini orang Asia banget, makanan barat ok gw nikmatin, tapi tetep ga ada yang bisa ngalahin enaknya masakan Asia yang berbumbu tebal. Malam itu kita pesen crispy quail, pork belly broken rice, vietnamese beef salad, sama clay pot pork belly. Total damage buat bertiga makan banyak begitu ga sampe 60$. Udah kenyang banget, menunya berdaging semua. 

Kelar makan dan balik ke hotel masih sempet donk minum-minum dulu di bar, sebelum harus pisah sama temen yang dari Sydney karena besok dia masih akan stay di Adelaide, tapi kami udah pergi pagi-pagi melanjutkan perjalanan balik ke Melbourne.

Nghi Ngan Quan

Wednesday, October 21, 2015

Operation Koala: Melbourne & Great Ocean Road

Hari kelima! Tiba-tiba udah 5 hari liburan, tiba-tiba udah ganti kota. Meski pagi sebelum terbang ke Melb udah sempet ngopi, sampe di Melb akhirnya ngopi lagi donk, hahaha! Gak langsung ngopi sih. Pas nyampe, mampir ke apartemen temen dulu. Dari airport sampai city naik skybus. Cepet juga ternyata cuma 20 menitan gitu udah sampe di Southern Cross Station. Apartemen temen gw persis di sebrang Southern Cross. Jadi tinggal nyebrang udah sampe deh. Berhubung belom makan siang, jadi makan dulu. Temen gw udah masak pasta, lumayan karena udah laper banget banget. Kelar makan, fleo pergi ke DFO karena mau belanja. Gw diem dulu di apartemen karena males belanja di DFO, lagi ga ada yang mau dicari, ditambah lagi mules. Jadi ngobrol-ngobrol aja sampe menjelang jam 4an, gw keluar karena mau ngopi.

Cafe pertama yang gw datengin di Melb adalah Manchester Press. Pesen flat white donk. Drink your coffee like Ozzies. Gak berencana nongkrong di cafenya karena udah sore, udah mau tutup juga, terus gw mau ke koko black, beli titipan. Jadi bawa-bawa kopi, jalan ke koko black terdekat. Terus malah pesen hot choco, terus malah ngobrol sampe diusir waiter.. Hehehe...
Manchester Press
Begitu koko black tutup, balik ke apartemen, nunggu fleo balik, sambil nunggu waktu sebelom jam reservasi di resto tempat dinner tiba. Malem itu hari Rabu, ada satu resto burger lumayan terkenal, bikin southern fried chicken enak banget katanya. Tapi harus reservasi dulu. Ga cuma reservasi tempat, tapi juga jumlahnya. Jadi kita ke sana naik tram, sampe pas waktu reservasi dan dikasih duduk langsung. Sambil liat-liat menu mikirin mau pesen apa lagi, sambil nunggu ayam gorengnya jadi. Kita pesen appetizer dan burger selain ayam yang udah kita pesen itu. Ayam gorengnya seekor gede banget udah dipotong-potong. Terus ada condiments juga. Meski beberapa condimentsnya gak cocok sama selera, tapi ayam gorengnya enak banget. Adonan tepungnya garing, bumbunya enak, meresap ampe dalem, ayamnya lembut. Jarang-jarang deh makan ayam goreng enak banget begitu. 

Rockwell & Sons Foods
Kelar makan, mampir ke gelato messina. Pas dateng sih ga terlalu rame, lagi asik cicip-cicip karena bingung mau nentuin yang mana, tiba-tiba rame luar biasa. Akhirnya pesen rasa yang belom dicoba waktu ke anita gelato. Tapi dari segi rasa secara keseluruhan, gw sih bakal lebih pilih balik ke anita gelato dibanding ke gelato messina. Lesson learned dari ke dua toko gelato ini, jangan kelamaan mikir, dicuekin sama pelayannya. Kan kesel, lagi bingung eh dianggurin. Padahal biar banyak cicip-cicip gw bukan beli 1 scoop doank juga.

Malem itu kita berusaha tidur ga terlalu malem, soalnya besokannya kita bakal berangkat rada pagi. Meski sempet mampir supermarket dulu sih beli perbekalan buat di jalan, sama bahan buat sarapan.

Keesokan paginya, temen gw bikinin sarapan, gw nyuci baju, beberes, karena ga mau bawa 2 koper buat jalan seminggu, jadi gw sama fleo mesti beresin barang biar jadi satu koper doank. Sedangkan pas pergi, barang kami masing-masing satu koper terpisah. Setelah memastikan semua barang sudah rapi, kita nyebrang lagi ke arah southern cross untuk ke kantor tempat rental mobil. Yang cowo-cowo ngurusin mobil, yang cewe-cewe nunggu di luar bergosip. Mobilnya sendiri diparkir di gedung parkir di sebelah stasiun. 

Nah, ada cerita waktu pas liat mobil pertama kali ini. Pas pesen, pesennya SUV. Biar enak kan gede, bagasi juga gede. Pas liat koq sedan??? Kenapa jadi beda? Ternyata, ada miskom antara petugas rental dan temen gw, jadi mobil yang kita pesen pertama ga available kalau mau dibalikin sore hari pas hari terakhir. Dikasih opsi lah toyota camry. Tapi mesti tambah bayar. Tambah bayar naik 1 grade, tapi kelas mobilnya sebenernya naik 2 grade. Setelah didudukin, mobilnya gede, empuk, enak banget. Hahaha kampungan abis. Biasa naik city car, tiba-tiba sekarang naik deluxe sedan. Bagasinya juga gede, jadi barang kita masuk semua dengan mudah.

Tujuan pertama hari itu adalah Piggery Cafe. Cafe punya Shannon Bennet, celebrity chef yang lumayan terkenal, sering nongol juga di Masterchef Australia. Sayangnya, meski pelayanannya bagus banget, makanannya kurang memuaskan. Udah baca banyak review orang sih, jarang ada yang review ok banget, tapi namanya pengen tahu jadi kita coba. Kelar makan tadinya mau jalan-jalan, tapi cuacanya kurang ok. Jadi perjalanannya kita lanjutin langsung ke Yarra Valley. Musim dingin emang pemandangannya kurang bagus sih. Kebun anggurnya juga lagi kering, tapi pemandangannya secara umum masih ok dan pantes buat foto-foto romantis. Hehe..
Piggery Cafe
Di Yarra Valley, kita mampir ke dua winery: Domaine Chandon sama Yering Station. Selain cicip-cicip wine, kita beli juga. Cuma mampir 2 winery, belinya 4 botol. Tapi emang berencana diminum juga sih selama perjalanan, jadi ya udah deh. Harganya juga lumayan murah, satu botol bisa belasan $ doank. Ada juga yang mahal, tapi kan cuma buat minum hore-hore, jadi beli yang murah dan pas kita coba rasanya lumayan.
Domaine Chandon
Yering Station
Yering Station
Malem itu kita nginep di Geelong. Karena nginep di Accor hotels dan punya member, jadi bisa dapet free drink. Malam itu sambil minum, kita ngobrol sama bartender yang lagi tugas. Masih muda, bule aussie, trus jadi banyak tanya-tanya rekomendasi seputaran great ocean road sama makanan area geelong. Sayangnya ga terlalu banyak yang ok hahaha.

The next day. It's Fleo's birthday! Dan gw ga nyiapin apa-apa huehehe. Kita keliling great ocean road, makan siang di Apollo Bay, makan scallop pie yang enak! Baru pertama kali makan scallop pie. Beli semacam pastry juga trus lanjut jalan. Terus temen gw kasih surprise dengan ngebeliin kue. Kuenya lebih dari separo gw yang abisin setelah sesi foto-foto. Mau nyalain lilin gak bisa karena anginnya kekencengan. Jadi dari korek pun apinya ga mau nyala.

Cheesecake for Fleo's birthday
Marriner's Lookout
Great Ocean Road ini banyak sekali spot yang bisa didatengin. Memang ada beberapa spot yang lebih terkenal dari yang lain, tapi kalau mau dikelilingin bener-bener tiap spot-nya, perlu lebih dari 1 hari. Sedangkan kita waktu itu cuma menyisihkan satu hari berkeliling great ocean road. Untungnya hari itu cuaca cerah, jadi berpindah-pindah ke banyak tempat ga jadi masalah. Pas sampai di Twelve Apostles, tempatnya rame banget sama turis. Ga nyaman buat jalan dan berkeliling, jadi cuma sebentar doank udah pindah lagi ke spot berikutnya. Begitu hari jadi gelap, kita buru-buru lanjut jalan dan makan, terus check-in ke hotel. Malam itu kita nginap di kota namanya Warnambool.

Twelve Apostles
Loch Ard Gorge

Tuesday, October 20, 2015

Banyak Ide

Tiba-tiba banyak ide menulis bermunculan. Ajaib memang. Kalau lagi ga semangat, nulis sekata pun malas. Kalau lagi dapet ide dan semangat, tiba-tiba semua topik mau ditulis. Hahaha.. 

Sebenernya masih banyak yang belum ditulis. Banyak trip jalan-jalan juga belum ditulis di blog sebagai kenangan. 

Kadang foto aja ga cukup. Pengen tetap menulis detail kejadian biar kalau mau mengingat-ingat lagi, tinggal buka blog, nanti jadi inget deh.

Mungkin mumpung lagi semangat begini, saatnya menulis kembali tentang liburan ke australia kemarin.. 

Yuk ah, lanjut nulis lagi.. :)

Saturday, October 17, 2015

Japanese Potato Salad

Setelah browsing sana-sini, akhirnya kemarin coba buat japanese potato salad pakai kewpie mayonnaise yang sudah diproduksi lokal di indonesia. Beli kewpie mayo pas jalan ke AEON mall, terus lagi ada promo. Di AEON beli mayo-nya, pas jalan lagi ke supermarket beberapa bulan kemudian, beli sesame dressing-nya. Belum pernah coba yang produksi jepang langsung karena kemasannya besar dengan harga yang lumayan mahal, makanya selalu maju-mundur tiap kali mau beli. Alasan berikutnya ga dibeli karena bingung mau bikin masakan apa lagi yang memakai mayo di dalamnya dan gampang dibuat.

Jadi kemarin ke papaya supermarket. Beli kentang, wortel, kyuri. Mayo sama jagung udah ada di apartemen. Setelah bikin, resep ini cukup gampang.

Bahan:
2 buah kentang
1 telur
3 cm wortel diiris tipis-tipis
3 cm kyuri/timun diiris tipis-tipis
1/4 cup jagung manis
2-3 sdm kewpie mayonnaise
Garam, lada

Caranya:
1. Kentang dikupas, dipotong 4 bagian, kemudian dimasukkan ke air biasa dan direbus hingga lunak. Tiriskan kentang, kembalikan ke panci tempat dimasak, kemudian nyalakan api kecil dan biarkan kentang dipanaskan hingga air/uap yang tersisa hilang. Lumatkan kentang, tapi jangan terlalu halus. Sisakan beberapa potongan sedikit besar agar tersisa tekstur yang berbeda ketika dicampur. Tambahkan garam ketika melumatkan kentang.
2. Rebus telur hingga matang semua. Masukkan telur ke panci berisi air dingin. Masak hingga airnya mendidih, matikan api, tutup panci dan biarkan 10-15 menit. Setelah 15 menit, tiriskan telur dan masukkan ke wadah berisi air es. Ketika sudah dingin, kupas terus kemudian lumatkan dengan garpu.
3. Wortel dan jagung direbus hingga lunak, tapi jangan terlalu matang.
4. Campur kentang dengan wortel, jagung, kyuri. Tambahkan lada. Aduk hingga rata, kemudian tambahkan telur yang sudah dilumat.
5. Tambahkan mayo 2 sendok makan, jika ada bumbu yang dirasa masih kurang bisa ditambah lagi. Masukkan ke wadah tertutup kemudian dinginkan di kulkas sebelum disantap.

Kalau mau versi complete meal bisa ditambah daging ham, tapi berhubung malas, kemarin bikin versi tanpa daging aja. Kewpie mayo sendiri di kemasannya tertulis sebaiknya dikonsumsi dalam kurun sebulan setelah dibuka, jadi sekarang lagi bingung mau bikin apa lagi yang bisa memanfaatkan si mayo. Okonomiyaki mungkin? ;)

Friday, October 16, 2015

Operation Koala: Sydney (part 2)

Hari ketiga di Sydney, bangun pagi ku terus lari. Iya, lari dari hotel sampe Sydney Harbour Bridge terus balik lagi ke hotel. Total 10 km lebih, cape, dingin, ga bertenaga. Ya siapa suruh sih kurang tidur terus malah lari. Kelar lari laper banget, tapi akhirnya baru makan menjelang jam 2. Itu aja makannya di Bondi. Emang hari itu rencananya mau jalan menyusuri Bondi beach hingga Coogee beach. Jadi dalam kondisi super laper, pergilah gw ke resto jepang murah namanya Menya di Bondi Junction. Pilihan makanannya ga terlalu banyak sih, antara udon, donburi, ramen. Gw pilih udon porsi besar sama gorengan-gorengan, terus abis. Iya, gw laper banget.

Baru setelah kenyang, gw jalan beneran menyusuri Bondi beach hingga Coogee beach. Mana hari itu berangin banget, jadi sempet kedinginan. Medannya ga terlalu berat, kadang ada tanjakan, tapi secara keseluruhan masih oke dibawa jalan santai. Cuma karena paginya udah lari 10 km, pas sore begitu sampe Coogee beach cape luar biasa. Terus kan masih winter, matahari cukup cepat terbenam. Rencana mau terusin jalan lagi dari Coogee ke Maroubra pun bubar jalan.
Bondi-Coogee Coastal Walk
Malemnya janjian sama kenalan buat dinner. Setelah pilih ini-itu, awalnya diajakin ke Chat Thai di Westfield. Eh ternyata tempatnya lagi renov. Sempet diajak makan ramen, tapi kita tolak soalnya ngajakinnya ippudo. Udah ada di Indo kan males. Terus akhirnya ke resto Thai lain namanya Home Thai. Antri banget padahal bukan weekend. Setelah nunggu selama kurang lebih setengah jam akhirnya masuk. Di home thai makanannya lebih enak-enak. Porsinya juga lumayan. Sempet coba beberapa dessertsnya juga yang emang lumayan terkenal di sini. Puas makan dan ngobrol, kita dianterin sampe hotel karena astaga dingin banget. Keluar resto ampe menggigil. Gw sih jelas udah ga sanggup disuruh jalan lagi ampe hotel. Bukan karena cape, tapi karena kedinginan. 

Hari selasa, rencananya mau ke kebun binatang. Tapi kebun binatangnya bukan yang di CBD. Gw sempet browsing kebun binatang mana yang punya banyak binatang lokal australia dan bisa pegang-pegang. Ketemu sama featherdale wildlife park. Tapi tempatnya jauh banget. Mesti naik kereta, terus lanjut naik bus. Sebelom pergi, gw sempet ke toko roti yang ga jauh dari hotel, namanya Bourke Street Bakery. Gw suka banget sama roti dan pastry, jadi pas baca kalau BSB ini enak banget, gw penasaran. Akhirnya gw beli beberapa roti, tart, dan pie, dan semuanya enak-enak. Sayangnya gw ga sempet lagi untuk beli roti kemari karena keterbatasan waktu. 

Ke Featherdale ini emang jauh, tapi berdasarkan petunjuk yang ada di website, akses kemari cukup mudah. Waktu di Airport gw juga ga lupa untuk ambil Tourist Guide, karena di dalamnya ada voucher diskon berbagai atraksi turis, salah satunya diskon 20% untuk Featherdale ini.

Jenis hewan yang ada di Featherdale sebenernya ga terlalu banyak, tempatnya juga relatif kecil. Tapi bisa pegang dan foto koala, bisa pegang-pegang kangaroo sama wallaby. Lucu-lucu banget. Wombat ketika besar ternyata ga selucu bonekanya. Tasmanian devil memang sesuai dengan namanya. Buat pencinta reptil dan burung, banyak reptil dan burung juga di sana. Pas gw di sana, kebetulan dari sekolah sebelah ada field tour. Jadi banyak anak TK ribut nan menggemaskan yang berkeliaran juga :P
Sleeping Koala
Feeding Wallaby (not sure if this is a kangaroo)
Ada satu area peternakan juga. Ada sapi, kambing, domba, kelinci, ayam, babi, yang kalau terlepas sih boleh dielus-elus. Berasa lucu sih karena gw di indo malah jarang ketemu sama yang begini. Jarang nyariin lebih tepatnya. Terus hewan di sana ga terlalu bau. Meski sempet ada kejadian lucu karena ada satu kambing yang hampir kabur. Dipanggil-panggil supaya ga kabur susah banget sampe ada yang cariin petugas kebun binatangnya. Tapi setelah petugasnya denger, katanya biarin aja, udah sering kejadian. Hahaha!

Selesai berkeliling di Featherdale, udah cukup siang, jadi kita cari makan dulu. Ada satu resto pho yang gw incar, karena katanya pho terenak di Sydney. Lokasinya emang lumayan jauh dari pusat kota, dan sebenernya ga searah banget sama jalan balik dari Featherdale ke kota. Tapi berhubung emang punya waktu, gw jabanin. Nama tempatnya Pho An. Sebelom ke sini, ada baiknya browsing review orang, supaya bisa tahu menu mana yang akan dipesan. Soalnya mereka ga sediain menu yang ditulis pakai bahasa Inggris. Menunya cuma dalam bahasa Vietnam aja, pakai latin sih, tapi kan tetep ya ga ngerti.. Menu yang ditulis pakai bahasa Inggris cuma kalau bowl to share harganya berapa. Porsi pho-nya gede banget. Gw ambil yang porsi standar aja lumayan kesusahan buat ngabisin. Fleo pesen yang porsi besar dan astaga gedeeeee banget porsinya. Emang sih harganya cuma beda 1$ sama yang biasa, tapi gw sih ga sanggup ngabisin. Harganya sebenernya ga murah-murah amat, tapi dari porsi dan rasa, this is the best pho I've ever had. Ga nyesel sama sekali. Kuahnya gurih, berasa banget kaldu sapinya, dagingnya banyak, mie-nya banyak banget. Tapi jauh sih emang, kalau ga sekalian cari sesuatu di area sana atau mau jalan kemana cukup perjuangan. 

Kenyang makan, gw bikin janji sama temen di city. Balik ke city naik kereta, terus sempet ke ANZAC memorial museum, tapi udah tutup, foto-foto bentar, terus gw jalan ke sebuah dessert place namanya AquaS. Tempat buat duduknya dikit banget, yang ada akhirnya gw sama temen gw ngobrol di tengah jalan. Gw sempet beli sih eskrimnya, ga pake topping. Rasanya... lembut, ga terlalu manis, tapi buat gw biasa aja. Lucu aja kalo pake topping, terus lucu buat difoto dan diposting ke social media. 

Temen gw ga lama karena anaknya tiba-tiba rewel pengen makan, akhirnya mereka balik. Terus gw pergi ke Pancakes on the Rocks. Antri bentar, masuk, pesen pancakes donk. Gw ga pernah lupa pancakes coklatnya yang cakey dan enak. Fleo pesen pork ribs yang entah ya gw yang kurang excited atau emang biasa aja. Pancakes-nya pancakes on the rocks ini emang beda sih. Jarang ketemu yang bisa moist banget versi vanillanya dan cukup cakey versi coklatnya.
Black Forest Pancake with additional Buttermilk Pancake
Abis makan gw ke darling harbour untuk rekonstruksi foto 3 tahun yang lalu. Dingin sih, tapi demi yah, pengen punya foto dulu dan sekarang gitu :P

Malam terakhir dihabiskan dengan beberes, karena keesokannya gw akan terbang ke Melb. Beberapa hari sebelumnya gw sempet mampir supermarket untuk beli croissant, jadi meski ga dapet sarapan di hotel, lumayan bisa ganjel dulu sama croissant itu. 

Ke hotel naik airport link lagi, pas sampe mau check-in rame banget. Ternyata semua penerbangan Jetstar proses check-innya dijadiin satu. Tiket dan baggage tag mesti diprint sendiri di mesin yang tersedia terus baggage tag-nya dipasang sendiri. Meski panjang banget tapi ga terlalu lama sih. Di dalem nemu counter toby's estate. Ga pake mikir langsung beli, padahal ga lama harus boarding. Ya gimana ya, abis ngantuk dan pengen kopi. Sekalian cobain kopi-kopi yang katanya enak. Toby's estate ini kopinya agak acid, tapi ga parah. Masih lumayan bisa dinikmati.

Setelah terburu-buru menghabiskan kopi, terbang deh ke Melbourne.

Operation Koala: Sydney (part 1)

Gw pergi ke Syd kali ini naik Qantas. Penerbangannya lebih pagi dibanding Garuda, jadi perkiraan sampai Syd adalah jam 6 pagi waktu lokal. Terbang kali ini cukup bisa tidur, soalnya lagi cape. Kebanyakan pikiran, kebanyakan kejadian yang bikin kurang tidur melulu 2 minggu terakhir sebelum pergi. 

Nyampe di Syd, proses imigrasi dan custom ga terlalu lama sih, tapiiiiii gw sempet ketahan sebentar di imigrasi. Ga tahu kenapa, paspor gw berkali-kali discan ulang sama petugasnya. Apa muka gw berubah banget yah dibanding foto? Jadi pas di counter pertama, discan 2x. Terus tiba-tiba petugasnya manggil rekannya yang lain, terus gw disuruh ke belakang. Terus paspor gw discan lagi, dan lagi. Setelah proses yang sangat mendebarkan itu (dimana gw sih cuma bisa pasang poker face aja), akhirnya gw dibolehin lanjut. Phew! Seumur-umur baru sekali ini paspor gw dicek berkali-kali di imigrasi. Petugasnya ga nanya apa-apa, ga ngomong sepatah kata pun juga. Cuma pake gerakan tangan. Sungguh bikin deg-deg-an.

Setelah ambil koper dan lewatin custom bagian nothing to declare, fleo beli sim card, gw akses wifi gratis bandara, terus beli Opus card. Opus card ini kartu transportasi syd yang baru. Dulu kita pakainya My Multi. Lesson learned trip kali ini: kalau loe turis dan mau sering naik transportasi umum di Syd, beli My Multi aja. Biayanya akan lebih murah dibanding pakai Opus. Pakai opus jarak deket itu mahal banget. Enak pake opus kalau kita banyak trip pendek-pendek dalam beberapa hari, abis itu gratis. Tapi gratisannya direset hari Minggu. Buat gw yang trip awalnya di hari sabtu jadinya rugi. Pas hari minggu sih enak, kemanapun total biaya 2$. Tapi hari-hari berikutnya rugi. Biaya transport waktu di Syd jadi gede banget karena gw sering naik transport umum ketika sebenernya bisa aja jalan kaki. Tapi ya namanya bukan jalan sendiri, manut aja ketika diajakin naik public transport. 

Kali ini ke city naik airport link. Turun di stasiun terdekat dari hotel. Kemarin nginep di Mercure Potts Point. Hotel ini sebenernya ga di CBD banget, tapi harganya lumayan beda jauh dibanding Ibis World Square. Akses ke stasiun keretanya sih enak, dari hotel jalan dikit ada pintu masuk. 

Pas proses check-in, blom bisa masuk kamar soalnya hotelnya lagi penuh. Ditawarin untuk titip koper dan self refresh di kamar mandi umum. Akhirnya setelah titip koper dan mikir-mikir mau kemana, gw mutusin untuk ke QVB. Bukan kenapa-kenapa sih, nyokap ada titipan vitamin dan tokonya ada di QVB. Vitaminnya udah diorder online dan dibayar via cc, jadi tinggal ambil doank. Setelah kontak temen yang di Syd, kita janjian ketemu di QVB. Proses ambil vitaminnya sih cepet, ga sampe 3 menit kelar. Terus nunggu temen dateng sambil foto-foto sekitaran QVB. 

Pas udah ketemuan, kita jalan ke pasar kaget. Ada SMH Grower's Market di Pyrmont Park. Banyak stall yang nyediain makanan jadi maupun fresh produce. Setelah berkeliling, gw beli Sonoma Bakery Morning Bun dan Colombian Connection Cappuccino. Fleo beli sandwich dari stall lain. Tadinya mau cari watermelon cake yang lagi happening banget dari Black Star Pastry tapi udah abis. Jadi akhirnya beli lemon cake, orange cake, dan ginger bread-nya. Kuenya enak-enak, lembut, dan manisnya pas. 

Colombian Connection Cappuccino and Sonoma Bakery Morning Bun

Kelar makan dan ngobrol-ngobrol, kita pindah ke Sydney Fish Market. Dulu ga kesampean, jadi demi pengen makan oyster dan seafood lain yang enak, mampirlah kemari. Tapi astaga, rame bener, touristy abis. Setelah kelilingin satu-satu stall yang ada, kita pilih ke Peter's Fish Market. Pilih-pilih, bayar, cari tempat duduk. Dapetnya di luar, tapi enaknya hari itu ga terlalu berangin. Kelar makan, foto-foto dulu di sekeliling situ. 

Oysters, lobster, squid from Peter's Fish Market

Puas foto-foto, udah lewat jam check-in. Karena agak cape, akhirnya check-in dulu, terus setelah beberes, tepar dan tidur. Meski belom puas istirahat, karena mau ngejar foto sunset, akhirnya bangun dan pergi naik kereta ke Bradfield Park. Tempat ini dipilih karena dulu udah pernah foto dari darling harbour. Jadi cari spot foto lain.

Sydney Harbour Bridge

Kelar dari bradfield park, kepengen cobain arisun yang katanya ayam gorengnya enak banget. Ga terlalu antri hari itu, jadi ketika mayoritas yang mau ikutan makan sudah datang, kita masuk dan langsung pesan. Ayam gorengnya enak, tapi chicken phong ga terlalu jauh di bawah. Yang nyebelin sih pelayanannya. Hari itu ga terlalu rame, tapi makanan belom kita abisin masak piringnya mau diangkat. Berkali-kali pula. Terus kita masih ngobrol dan makan udah dikasih bon. Yang kita anggurin donk. Kita minta minum juga ga ditanggepin. Salah satu pelayannya sempet kita semprot pas mau angkat piring yang masih ada makanannya. Abis kita semprot, ga ada yang berani datengin meja kita lagi. Kalau soal pelayanan, Madang lebih bagus sih. 

Abis ngobrol-ngobrol, sebagian pulang. Yang tersisa... masih pengen ngobrol :)) Akhirnya cari max brenner yang buka ampe tengah malem. Dingin-dingin ga ada yang nolak secangkir coklat panas. Yang mengejutkan, banyak anak Indonesia yang nongkrong di situ malem itu. Jadi berasa lucu karena merasa familier dengan sekitaran.

Begitu disamperin pegawai MaxB kalau mereka mau tutup, baru deh kita bubaran.

Keesokan paginya, meski telat, misa ke katedral dulu. Di rencana hari-hari minggu berikutnya, ga akan kekejar waktu kalau mau ke gereja. Umatnya yang hadir sedikit banget, terus yang duduk di belakang mayoritas asia. Kelar misa, ada waktu sebelum misa berikutnya. Jadi liat-liat, foto-foto, doa di Bunda Maria, dengerin lonceng gereja dibunyikan. Gak tahu kenapa, senang dan damai banget duduk-duduk doank di dalem gereja. Begitu misa berikutnya mau mulai, gw keluar gereja terus foto-foto dulu. Sambil mikir-mikir mau cari makan dimana karena tujuan berikutnya jauh, perlu 1.5-2 jam untuk sampe ke tempat tujuan. 
Sydney Cathedral
Atas saran temen, gw ke Mary's Burger ga jauh dari situ. Mary's Burger ini yang terkenal chicken burgernya sama thick milkshake. Burgernya bener-bener baru dimasak ketika dipesan, jadi emang fresh banget. Tapi tempat yang gw datengin ga sediain kursi-meja, khusus take-away aja. Jadi kita pergi ke Westfield, terus duduk di foodcourt, baru makan. Chicken burgernya enak banget, tapiii ga tahu kenapa, di akhir-akhir rada bikin bleneg. Beef burgernya lumayan enak juga, tapi ga seenak chicken burgernya. Mereka nyediain breakfast burger sama vegetarian burger, breakfast burgernya nampak menarik juga, tapi udah keburu pesen baru sadar ada breakfast burger. Milkshake-nya kurang berasa coklatnya. Beda banget sama milkshake ala indo yang rasanya tebel. 

Kelar makan, ke halte bus nunggu bus yang akan membawa ke Palm Beach sebagai tujuan berikutnya. Begitu naik bus, ga lama langsung tidur. Abis cape :P

Hampir 2 jam kemudian akhirnya sampe ke Palm Beach. Gw tuh mau ke sini gara-gara liat foto temen gw, pemandangan dari atas bukitnya koq bagus. Gw turun tuh di halte terakhir. Terus koq cuma pantai doank sama perumahan. Mana bukit yang bisa didaki supaya bisa liat pantai? Cek google maps, ternyata tempat naiknya kelewatan. Akhirnya dari ujung pantai, gw jalan lumayan jauh sampe akhirnya ketemu titik awal buat mendaki. 

Rute buat naik ada 2, tangga jahanam tapi pendek, atau trek yang lebih landai tapi jauh. Apesnya, trek yang landai itu lagi direnovasi, jadi mau ga mau lewat tangga jahanam buat sampe ke atas. Curam dan tinggi, tapi emang begitu sampe di atas pemandangannya bagus banget. Ada mercusuar juga yang tersedia tour bisa naik sampe puncak. Tapi gw sih pengen menikmati pemandangan terus ga kekejar waktu kalau ikut tour keliling mercusuar. Setelah puas di atas, kita turun, abis itu pas jalan ke halte bus terdekat, malah liat 2 orang cowo lagi main selancar angin. Jadinya malah berenti trus nontonin mereka.
Palm Beach from up above
Dari Palm Beach ke kota, naik bus yang sama. Waktu tempuhnya kira-kira hampir 2 jam juga. Enaknya naik transportasi umum, jalurnya khusus, udah gitu lewat jalan tol, jadi ga kejebak macet kaya mobil pribadi. Iya, di Sydney juga ada macet, tapi ya ga separah jakarta sih..

Sampe di kota laper, terus akhirnya ke resto thai namanya Spice I Am. Pesen pad thai, pork satay, sama pad prik khing crispy pork belly. Pad thai-nya rada aneh, pork satay-nya ok. Pad prik khingnya enak banget tapi pedes. 

Kelar dinner, pengen desserts. Akhirnya ke anita gelato di gedung yang sama dengan MaxB malam sebelumnya. Bingung pilih-pilih rasa, akhirnya pilih coklat, strawberry, dan rasa standar lain. Kalau rasa yang aneh-aneh pas coba malah kemanisan, gak suka. Tapi anita gelato ini porsinya besar trus enaakkk. Puas banget makan anita gelato ini. Pas makan desserts, ada teman lain yang datang, trus kelar dari anita gelato, gw tanya donk, loe dah makan belom? Dijawab belom. Lah, terus mau makan dulu ga? Akhirnya setelah debat-debat ga jelas, memilih McD.

Gw sih akhirnya di McD makan apple pie... Ya kapan lagi bisa makan apple pie, di indo udah ga ada. Mana lagi promo, jadi apple pie-nya cuma 2$ selama kira-kira sebulan. Setelah puas ngobrol baru deh kita bubar. Baru dateng 2 hari, tapi tiap malem baru tidur lewat jam 12. Hahaha.. 

Thursday, October 15, 2015

Operation Koala: Before Flying Out

Tiga tahun yang lalu kan udah pernah ya ke Australia. Tapi waktu itu cuma ke Sydney dan sekitarnya. Cuma di negara bagian NSW sama ACT aja nyampenya. Waktu kecil sih pernah juga, sampe ke gold coast segala. Tapi berhubung udah 20 tahun yang lalu kan udah lupa juga.

Tahun 2014 pergi ke NZ. Seru, tapi balik lagi ke sana cuma berdua sih cari mati. Jadi opsi liburan panjang tahun ini dikerucut jadi 2 opsi, Jepang atau Australia. Jepang itu ada di nomor 1 bucket list gw. Pengen banget tapi biaya besar. Mana kalau ada tiket promo seringnya mepet, jadi kalau mau rencanain pergi jauh-jauh hari, ga bisa dapet tiket murah. 

Australia jadi opsi berikutnya karena sahabat gw baru pindah ke Melbourne. Alasan yang cukup buat jalan ke sana. Tapi masa ke Melb doank? Temen yang di Sydney disamperin juga donk. 

Terus cari tiket, eh ada tiket ga mahal bisa pergi ke Sydney, pulang dari Melb via Sydney juga sih. Mau di Syd berapa hari? Mau di Melb berapa hari? Mau pergi kemana lagi? Road trip? Dengan segala ide yang ada di kepala, akhirnya beli dulu aja deh tiket PP dari Jakarta. Di tengahnya mau ngapain dipikirin nanti.

Tickets done.

Terus mesti mikirin mau pergi kemana berapa lama. Dengan segala janjian meet-up di Sydney sama kenalan, waktunya koq jadi dikit yah kalau cuma 3 hari? Ok, mulai pusing. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang dan bertanya ke temen yang di Syd, diputuskan di Syd 4 hari. Hari ke 5 terbang ke Melb. Tadinya mau road trip, tapi setelah dihitung-hitung banyak banget waktu yang abis di jalan. Jadinya road trip kita batalin.

Dari Melb, terbitlah ide-ide lain. Road trip ke Adelaide. Ke sini, situ, sampe pusing. Berbulan-bulan kemudian, setelah menelisik semua opsi yang ada, akhirnya diputuskanlah rencana seperti itinerary yang ada di post sebelumnya.

Kelar semua ini, gw inget kalau paspor mesti diperpanjang. Sebenernya pas mau pergi ke Australianya sih masih ada waktu, tapi berhubung setelah itu ada kemungkinan mau dipakai lagi, jadi gw gak mau ambil risiko, mendingan perpanjang aja.

Awal bulan Mei, gw perpanjang paspor. Cukup gampang dan cepat prosesnya, kurang dari seminggu, paspor baru sudah di tangan. Paspor udah jadi, sekarang urusan buat visa. 

Persyaratan untuk visa Australia sebenernya ga susah-susah amat. Tapii dokumen yang harus diisi berlembar-lembar banyak banget. Sejujurnya, apply visa kali ini agak bikin khawatir. Gak kaya tahun lalu ketika tabungan lagi banyak-banyaknya, tabungan gw kali ini pas-pasan. Duit keserap semua ke aset dan cicilan, sisa di tabungan jadinya ga banyak. Tapi kayaknya tabungan yang pas-pasan itu ga terlalu jadi masalah, sepertinya karena gw udah pernah dapet visa Australia sebelumnya. Jadi 3 hari setelah apply visa, email approval dikirim, terus dapet visanya setahun multiple entries. Haseekk! Jadi abis ini bisa pergi lagi (kayak ada duitnya aja :P)

Sebelum apply visa itu, udah sempet buat bookingan hotel yang bisa dicancel. Yang di Syd sih ga bisa, karena udah pasti rencananya di kota aja, terus udah beli tiket ke Melb juga. Jadi ga masalah sih. Yang di Melb yang dibuat bisa dicancel, karena banyak banget rencana yang belum difinalisasi waktu itu.

Setelah dapet visa, mulai deh browsing lagi pastinya mau kemana. Cape banget, 2 bulan penuh intensif mikirin dan ngerencanain hari per hari mau kemana. Sydney relatif gampang perencanaannya, karena sebagian udah pernah dikunjungin, jadi sisanya yang belum pernah ga banyak.

Road trip melb-adelaide yang bikin sakit kepala. Kelamaan di jalan, ga ada apa-apa yang bisa diliat. Dikebut biar cepet nyampe adelaide, takutnya kecapean juga. Pusing luar biasa. Tapi akhirnya setelah itinerary pasti sudah ditetapkan, berikutnya cari rental mobil. Sewa mobil di australia itu tricky, dalam artian, sebagai warga luar, opsi dan harga jadi terbatas. Akhirnya minta temen yang di Melb untuk buat bookingan atas nama dia supaya prosesnya lebih gampang.

Pemilihan tempat makan juga jadi problema berikutnya. Makan di australia mahal! Gak kaya spore yang banyak cheap eats di bawah 5$, di australia makanan murah itu ya hampir 10$ juga. Mau makan enak sedikit tiba-tiba biayanya bisa 20-30$. Belom nyemil2. Belom kepengen desserts. Yah, ini sih emang gw aja banyak maunya tapi ga mau keluar duit banyak. Serba salah deh pokoknya. Setelah budgeting selesai, persiapan winter gear selesai, tinggal terbang!

Seminggu terakhir sebelum terbang, gw sempet hectic banget sama macem-macem. Jujur sempet bingung, kurang excited, dan panik takut ada yang ketinggalan. Syukurnya, begitu sampe bandara, excitementnya kebangun. Oh yeah! Another holiday :D

Wednesday, October 14, 2015

Ramen Frenzy

Gw ini gila bakmi. Ga cuma bakmi sih, bihun, kwetiaw, udon, soba, misoa, pasta, dll, gw suka semua. Saking demennya, gw suka harus menahan diri kalau pagi atau siang udah makan bakmi, makan berikutnya ga boleh bakmi lagi. Baru boleh ketika ganti hari. Iya, segitu gilanya sampai harus ngerem diri sendiri :P

Kalau bakmi versi cina, jangan ditanya lah udah dari kecil sering banget makan. Dari yang udah jadi versi Indonesia kaya bakmi GM atau GK, atau bakmi-bakmi di pasar baru, baik yang di daerah pasar basah maupun pasar kering, banyak banget yang udah gw coba.

Nah, tapi kalau ngomongin bakmi jepang alias ramen, baru 3 tahun belakangan booming di jakarta. Entah sih siapa yang mulai, tapi pas tahun 2009, gw cuma tahu satu tempat ramen enak di jakarta: Sanpachi Ramen.

Sanpachi ramen ini lokasinya di melawai, dulu di lantai 2 gedung kamome, sekarang udah pindah ke lantai 1. Terakhir makan di sana pas masih di lantai 2, itu aja mungkin udah 2 tahun lebih yang lalu. Awal-awal makan sanpachi, gw suka tonkotsu ramennya. Tapi lama-lama kan bosen ya, masa makan tonkotsu ramen terus. Akhirnya gw coba-coba deh ramen dia yang lain. Mabo ramen, curry ramen, miso ramen, negi ramen, dll. Menurut gw sanpachi ini menangnya karena dia sediain berbagai macam ramen, jadi orang ga bosen. Tapi ini review 4-5 tahun lalu. Ga tahu sekarang rasanya gimana.

Kayaknya, ramen mulai booming ketika hakata ikkousha masuk. Rame banget sampe antri ke luar-luar resto, tapi sampai sekarang gw ga pernah coba. Selain ga tertarik (males antri), banyak review orang-orang dekat yang bilang kalau ramen ini sebenarnya... kurang enak. Meski masih penasaran, tapi sampai sekarang belum mengumpulkan niat ke sana.

Ramen berikutnya yang gw coba di kira-kira ginza. Lokasinya di blok m juga. Rasanya sih waktu itu ok, tapi ga bikin pengen balik lagi. Ya pokoknya udah pernah coba.

Terus, periode 2010-2013 itu, gw berkali-kali mampir ke singapore yang udah kena booming ramen juga. Gak mau ketinggalan, setelah browsing review sana-sini, gw coba beberapa tempat ramen.

Salah satu yang gw suka banget adalah Santouka. Aduh itu miso ramennya enak luar biasa. Pork cheek charsiunya apa lagi. Kalau pernah denger orang bilang "dagingnya meleleh di mulut", itu pas banget buat gambarin betapa enaknya pork cheek charsiu-nya santouka. Eh, ternyata, pas 2013, santouka buka di jakarta. Dan sejak itu, santouka adalah resto ramen yang paling sering gw kunjungin selama setahun ke depannya. Sampe eneg, sampe di satu titik ga pernah ke santouka lagi. 

Kayaknya yang bosen sama santouka ga cuma gw, sampai tengah tahun ini, santouka plaza indo akhirnya tutup. Menyisakan cabang kelapa gading yang waktu gw datengin, rasanya udah ga sama :( Gila, sedih abis. Ramen favorit gw tiba-tiba rasanya ga lebih baik dibanding ramen instan. 

Di changi terminal 3 di basement, sebrang foodcourt, ada ramen champion. Isinya sih ganti-ganti, tapi di situ gw pertama kali coba hokkaido ramen. Enak, karena gw suka miso soup, terus toppingnya dikasih jagung sama butter, jadi tambah gurih. Telornya juga setengah mateng, ga kaya di jakarta yang kalau nyediain telor rebus kadang kematengan. Ramen lain yang gw suka riki ramen, spesialis shoyu ramen, terus gw suka yang varian pake bonito flakes. Itu gw makan pas sebelum 2013. Karena pas 2014, ramen stall yang ada udah ganti. Hokkaido ramen yang dulu udah ga ada. Ada stall hokkaido ramen lain yang rasanya ok juga. Lupa stallnya apa. Terus ada buta god ramen, yang nyediain ramen dengan pork slices banyak melimpah dan enak banget juga. 

Ramen di singapore lain yang pernah gw coba itu keisuke tonkotsu king, waktu itu gw coba autumn ramen, dan aduh, rasanya ga terlupakan. Enak banget, gede banget porsinya. Kemudian gw juga coba tampopo ramen, yang nyediain kuah seafood, jadi rasanya light dan beda dibanding ramen-ramen lain yang nonjolin kuah tonkotsu. 

Di jakarta sebenernya sempet ada ramen yang ga nonjolin kuah tonkotsu tapi shoyu. Ada tokyo tabushi ramen sama yamagoya ramen. Tokyo tabushi ga terlalu laku karena.. bukan kuah tonkotsu? Yamagoya ramen sempet rame sebelum banjir jakarta yang parah menerjang gedung tempat mereka berada dan berakhir tragis. Tapi denger-denger keduanya udah buka cabang lagi di daerah pluit. Berhubung bukan daerah jajahan, jadi males ke sana.

Ramen berikutnya yang gw coba menya sakura di lotte shopping avenue. Light tonkotsu soup, ga terlalu mahal, perfect comfort food banget. Yang sejenis sama menya sakura ini adalah ikkudo ichi. Ikkudo ichi juga masih ok dari segi harga dan rasa, jadi kalau kepengen ramen tapi males keluar duit banyak, dua ramen ini bisa jadi opsi. Dulu denger-denger, ikkudo ichi ini pecahannya hakata ikkousha. Gak tahu sih sengketa apa, tapi sekarang ikkudo ichi buka dimana-mana di mall-mall, hakata ikkousha cabangnya ya segitu-segitu aja.

Setelah berkeliling ke banyak tempat, salah satu penyedia ramen tonkotsu terbaik gw sematkan pada echigoya ramen melawai. Ramen khas dia sendiri malah kurang sesuai selera, tapi tonkotsu ramennya enak luar biasa. 

Di daerah jakarta barat ada ramen yang sempet happening juga, namanya tsurukamedou. Cobain yang spicy ramen terus kepedesan. Kesel karena ya jadi ga terlalu menikmati, padahal biasanya spicy ala jepang ga pedes-pedes banget. 

Ada satu resto ramen yang udah cukup lama malang melintang di dunia persilatan ramen tapi baru gw coba tahun lalu: Marutama. Surprise, surprise. Ebi ramennya enak! Tapi ramen yang pakai buta kakuni lebih enak lagi. 

Di tengah ramainya resto ramen yang buka, ippudo memutuskan untuk buka cabang di jakarta. Gw coba terus gak suka... Gak sesuai selera. Kurang kenceng, mie kurang, charsiu kurang. Bahkan supaya kuahnya enak diminum, mesti gw tambahin banyak condiments dulu biar enak. Yah.. balik lagi ke masalah selera kalo ramen sih.

Oke, postingan soal ramen ini udah kepanjangan. Padahal gak pake foto satupun. Gak semuanya ada fotonya juga sih. Beberapa diposting di social media, tapi beberapa berakhir di harddisk komputer terus males carinya.

Lanjut lagi dulu deh, tinggal sedikit lagi yang belum dibahas.

Dua resto ramen terakhir yang gw datengin di jakarta adalah Bankara Ramen sama Bariuma Ramen. Bankara ramen masih spesialisnya di tonkotsu. Kakuni-nya enak banget. Tapi saran gw sih sebaiknya pilih tonkotsu ramen dibanding bankara ramennya itu sendiri. Karena bankara ramen terlalu oily. Malah bikin eneg.

Bariuma ramen juga spesialis tonkotsu ramen. Tapi charsiu dia beda, tebel-tebel dan ga banyak minyak. Jadi biarpun bayar agak mahal, puas karena tebal potongan charsiunya 2x lipat resto ramen lain. 

Eh ada satu ketinggalan. Waktu lebaran sempet ke AEON, mall happening abis di bsd. Dan tentu sudah jauh-jauh ke mall jepang carinya ramen donk. Karena bosen tonkotsu2an, gw pilih seirockya ramen yang spesialisnya chicken ramen. Tapi itu enak buanget. Terus dia sedia semacam classic ramen yang kuahnya shoyu, terus nyokap gw suka karena kuahnya enteng, ga bleneg buat dia. Kalau mau coba, gw saranin pilih yang ekstrim, karena kuahnya lebih gurih dan kental, tapi karena bahan bakunya ayam, jadinya ga terlalu kental dan gurih kaya babi. 

Haahh.. Kayaknya udah semua ramen yang gw coba gw tulis di sini ^^"

Yamatoten abura soba masuk ramen ga? Hahahahaha... Gak perlu ditulis panjang-panjang, tapi saat ini, yamatoten ada di peringkat 1 bakmi jepang terenak versi gw :D 

Tuesday, October 13, 2015

Liburan dan Pajak

Udah 2 hari ini, lagi ada ribut-ribut soal dirjen pajak yang akan memonitor sosial media untuk mengetahui apakah wajib pajak membayar dan melaporkan pajaknya dengan benar atau tidak dilihat dari postingannya.

Terus seperti biasa, kelas menengah ngehe pada ribut. Merasa ranah privasinya dilanggar. 

Gw malah heran, koq malah panik sih? Kalau bayar pajak dan melapor dengan benar, hidup sehari-hari dengan benar, menabung dengan benar juga, loe akan punya uang cukup untuk makan enak, belanja ini-itu, dan liburan.

Apa yang salah dengan liburan? Buang banyak uang? Kan tergantung gaya liburannya. Tiket bisa dicari ketika promo, yang biasanya bisa lebih murah 20-30% dibanding harga normal. Penginapan bisa cari promo, pakai poin, dll, yang membuat biayanya mungkin ga sebanyak itu. 

Terus kenapa pada panik? Merasa dirjen pajak pasti berasumsi kalau liburan identik dengan biaya besar? Ya kalau sampe dipanggil dan ditanya tinggal jawab dengan jujur kan. Buat yang membayar dan melapor pajak dengan benar, harusnya gak jadi masalah.

Kalau gak bayar pajak terus gak lapor ya salah sendiri sih...

Tapi emangnya pajak kita buat apaan? Dipake korupsi terus koq. Terus aja pesimis dan salah kaprah. Jalanan umum, gorong-gorong, taman kota, dll, dibangun pakai uang siapa kalau bukan pajak? BPJS yang dimaki-maki tapi dipakai dan membantu orang-orang yang benar-benar sakit, dari mana uangnya kalau bukan dari pajak? (soal BPJS yang sekarang bermasalah sih pembahasan lain ya...)

Jadi warga negara yang baik itu gak susah dan gak usah ngomel-ngomel terus juga kalau merasa pajak yang kita bayar tidak dimanfaatkan dengan baik. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tapi bukan berarti rumput sendiri gak sehijau tetangga.

Belajarlah lebih banyak bersyukur :)