Beberapa saat lalu, di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia sempat diterapkan kebijakan plastik belanja berbayar. Tanggapan masyarakat kebanyakan negatif sekali. Yang gw sangat sayangkan, tanggapan negatif ini malah datang dari yang berpendidikan tinggi yang menganggap bahwa kalau mereka bayar untuk plastik belanja, maka:
1. Uangnya cuma nambah-nambahin kaya si pengusaha supermarket/minimarket/hypermarket
2. Ngeselin ketika belanja banyak terus perlu plastik banyak dan karena (misal) naik kendaraan umum dan perlu ke tempat lain sebelum belanja, membawa tas sendiri itu merepotkan
Jujur aja ya, gw gregetan banget bacain status2 di fb yang ngomong dengan 2 alasan di atas. Uang dari hasil pembayaran plastik itu kan nantinya balik lagi ke program reboisasi hutan dan pemeliharaan lingkungan. Terus harga plastiknya cuma 200 perak. Doh! Perlu sebanyak apa sih pas belanja bulanan? 20 biji? 20 x 200 = 4.000, ga sampe seharga teh botol beli di warung.
Sumpah ngeselin abis alasannya. Terus ya, ada yang bilang akhirnya dia ngambilin plastik yang dipakai untuk sayur/buah sebanyak-banyaknya untuk nampung belanjaan dia. Lah gimana coba? Silakan pikirin sendiri deh ya, mana yang pemikirannya sempit dan negatif melulu terhadap apapun kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Yang alasan kedua lebih ga masuk akal. Tas belanja kan bisa dilipat. Tinggal dimasukkin aja ke tas tangan yang dipake. Kalau tas lipatnya rada gede, ya bawa tas tangan jangan imut-imut juga sih, apalagi tahu mau belanja. Kalau udah ada pasangan/anak, minta tolong mereka bawa tas/ransel, terus tas belanjanya tinggal masukkin ke tas mereka, dan malah tas mereka bisa ditaro belanjaan juga kan?
Situ ga mau repot, ga mau bayar, tapi ga mikirin masa depan anak-cucu.
Gw sekarang tinggal di tempat dimana plastik belanja harus bayar. Harganya kalau dikurs kurang lebih 600 rupiah. 3x lipat harga di Indonesia!
Pada bayar ga? Ya bayar lah, awal-awal sama pada ngeluh juga, tapi setelah beberapa saat, dibayar juga kan. Plastiknya toh kepake lagi buat tempat sampah. Gw sih beli sendiri plastik buat sampah karena harganya lebih murah. Setiap kali belanja gw pasti bawa tas belanja sendiri dan menurut gw malah lebih bagus, karena ga numpukkin plastik ga jelas di lemari.
Setiap kebijakan itu pasti ada plus minusnya. Tinggal kita mau lihat yang minusnya terus atau mikirin sisi plusnya untuk ke depannya?
Friday, March 11, 2016
Monday, March 7, 2016
ECCT dan pentingnya uji klinis
Beberapa bulan yang lalu, ada satu dokter yang mendadak terkenal karena punya alat yang diklaim dapat menyembuhkan kanker. Alatnya ECCT (Electro Capacitive Cancer Therapy) dan nama dokternya Warsito.
Namun, terapi ECCT ini tidak mendapatkan izin dari Depkes. Alasannya karena tidak cukup bukti klinis akan keamanan dan tingkat keberhasilannya.
Perdebatan cukup sengit sempat terjadi di berbagai kalangan terutama yang mengangkat testimoni para pasien dr. Warsito yang menyatakan kalau mereka sembuh setelah terapi dengan alat ini.
Satu saja pertanyaan: Pernah mencari testimoni yang tidak sembuh atau malah bertambah parah tidak? Karena orang-orang ini ada, tapi tidak bersuara lantang. Orang-orang ini lantas menyesal ke dr. Warsito dan segera mencari dokter-dokter onkologi terkenal yang semoga bisa membantu mereka.
Ketika pengumuman dari Depkes keluar, tidak lama kemudian ada berita kalau dr. Warsito pergi ke luar negeri karena merasa "tidak diterima" di Indonesia.
Lalu muncullah banyak opini yang menyayangkan kenapa hasil karya anak bangsa malah tidak diakui..
Sebagai lulusan farmasi, gw sangat mendukung keputusan Depkes yang tidak memberikan izin terhadap ECCT. Kenapa? Ya karena tidak ada uji klinisnya! Kalau memang benar ECCT dapat menyembuhkan kanker, kenapa dr. Warsito tidak mengusahakan uji klinis yang sesuai standar agar kemudian dapat diberikan izin oleh Depkes?
"Tapi kan testimoni orang-orang kalau mereka sembuh setelah ECCT." --> Sekali lagi, apakah semua orang yang berobat ke dr. Warsito sudah pernah diwawancara?
Uji klinis itu penting. Sangat penting. Kita tidak bisa menutup mata terhadap faktor keamanan, sekalipun hasil terapi itu sangat menakjubkan. Setiap pengobatan mempertimbangkan faktor risk dan benefit. Ketika benefitnya dapat dibuktikan lebih tinggi daripada faktor risk, mungkin cara pengobatan tersebut boleh dipakai, setelah melewati berbagai tahap uji klinis tentunya.
Gw tidak menafikan testimoni orang-orang yang bilang kalau mereka sembuh setelah terapi ECCT. Bisa jadi memang terapi tersebut sesuai dengan kondisi mereka, bisa jadi memang Tuhan memberi keajaiban. Tapi jangan menyamaratakan kondisi penyakit kanker setiap orang. Karena ada banyak jenis kanker dan kondisi setiap orang berbeda-beda, maka standardisasi itu diperlukan.
Namun, terapi ECCT ini tidak mendapatkan izin dari Depkes. Alasannya karena tidak cukup bukti klinis akan keamanan dan tingkat keberhasilannya.
Perdebatan cukup sengit sempat terjadi di berbagai kalangan terutama yang mengangkat testimoni para pasien dr. Warsito yang menyatakan kalau mereka sembuh setelah terapi dengan alat ini.
Satu saja pertanyaan: Pernah mencari testimoni yang tidak sembuh atau malah bertambah parah tidak? Karena orang-orang ini ada, tapi tidak bersuara lantang. Orang-orang ini lantas menyesal ke dr. Warsito dan segera mencari dokter-dokter onkologi terkenal yang semoga bisa membantu mereka.
Ketika pengumuman dari Depkes keluar, tidak lama kemudian ada berita kalau dr. Warsito pergi ke luar negeri karena merasa "tidak diterima" di Indonesia.
Lalu muncullah banyak opini yang menyayangkan kenapa hasil karya anak bangsa malah tidak diakui..
Sebagai lulusan farmasi, gw sangat mendukung keputusan Depkes yang tidak memberikan izin terhadap ECCT. Kenapa? Ya karena tidak ada uji klinisnya! Kalau memang benar ECCT dapat menyembuhkan kanker, kenapa dr. Warsito tidak mengusahakan uji klinis yang sesuai standar agar kemudian dapat diberikan izin oleh Depkes?
"Tapi kan testimoni orang-orang kalau mereka sembuh setelah ECCT." --> Sekali lagi, apakah semua orang yang berobat ke dr. Warsito sudah pernah diwawancara?
Uji klinis itu penting. Sangat penting. Kita tidak bisa menutup mata terhadap faktor keamanan, sekalipun hasil terapi itu sangat menakjubkan. Setiap pengobatan mempertimbangkan faktor risk dan benefit. Ketika benefitnya dapat dibuktikan lebih tinggi daripada faktor risk, mungkin cara pengobatan tersebut boleh dipakai, setelah melewati berbagai tahap uji klinis tentunya.
Gw tidak menafikan testimoni orang-orang yang bilang kalau mereka sembuh setelah terapi ECCT. Bisa jadi memang terapi tersebut sesuai dengan kondisi mereka, bisa jadi memang Tuhan memberi keajaiban. Tapi jangan menyamaratakan kondisi penyakit kanker setiap orang. Karena ada banyak jenis kanker dan kondisi setiap orang berbeda-beda, maka standardisasi itu diperlukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)