Beberapa bulan yang lalu, ada satu dokter yang mendadak terkenal karena punya alat yang diklaim dapat menyembuhkan kanker. Alatnya ECCT (Electro Capacitive Cancer Therapy) dan nama dokternya Warsito.
Namun, terapi ECCT ini tidak mendapatkan izin dari Depkes. Alasannya karena tidak cukup bukti klinis akan keamanan dan tingkat keberhasilannya.
Perdebatan cukup sengit sempat terjadi di berbagai kalangan terutama yang mengangkat testimoni para pasien dr. Warsito yang menyatakan kalau mereka sembuh setelah terapi dengan alat ini.
Satu saja pertanyaan: Pernah mencari testimoni yang tidak sembuh atau malah bertambah parah tidak? Karena orang-orang ini ada, tapi tidak bersuara lantang. Orang-orang ini lantas menyesal ke dr. Warsito dan segera mencari dokter-dokter onkologi terkenal yang semoga bisa membantu mereka.
Ketika pengumuman dari Depkes keluar, tidak lama kemudian ada berita kalau dr. Warsito pergi ke luar negeri karena merasa "tidak diterima" di Indonesia.
Lalu muncullah banyak opini yang menyayangkan kenapa hasil karya anak bangsa malah tidak diakui..
Sebagai lulusan farmasi, gw sangat mendukung keputusan Depkes yang tidak memberikan izin terhadap ECCT. Kenapa? Ya karena tidak ada uji klinisnya! Kalau memang benar ECCT dapat menyembuhkan kanker, kenapa dr. Warsito tidak mengusahakan uji klinis yang sesuai standar agar kemudian dapat diberikan izin oleh Depkes?
"Tapi kan testimoni orang-orang kalau mereka sembuh setelah ECCT." --> Sekali lagi, apakah semua orang yang berobat ke dr. Warsito sudah pernah diwawancara?
Uji klinis itu penting. Sangat penting. Kita tidak bisa menutup mata terhadap faktor keamanan, sekalipun hasil terapi itu sangat menakjubkan. Setiap pengobatan mempertimbangkan faktor risk dan benefit. Ketika benefitnya dapat dibuktikan lebih tinggi daripada faktor risk, mungkin cara pengobatan tersebut boleh dipakai, setelah melewati berbagai tahap uji klinis tentunya.
Gw tidak menafikan testimoni orang-orang yang bilang kalau mereka sembuh setelah terapi ECCT. Bisa jadi memang terapi tersebut sesuai dengan kondisi mereka, bisa jadi memang Tuhan memberi keajaiban. Tapi jangan menyamaratakan kondisi penyakit kanker setiap orang. Karena ada banyak jenis kanker dan kondisi setiap orang berbeda-beda, maka standardisasi itu diperlukan.
No comments:
Post a Comment